Antisipasi PMK, Peternak Sapi Jombang Gunakan Anti Biotik Alami Air Rebusan Sirih Merah.

JOMBANG – Jurnalforumindonesia – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang sapi saat ini, membuat para peternak di Jombang mulai diliputi rasa wa-was.

Pasalnya berakibat pengiriman sapi antar daerah dibatasi serta harga jual pun terjun bebas.

Gomblo, 51, salah satu peternak asal Dusun Manduro, Desa Pangklungan, Kecamatan Wonosalam, mengamini bahwa akibat wabah PMK, pengiriman sapi ke sejumlah daerah dibatasi, maka lambat laun kondisi ekonomian peternaknya juga ikut terancam.

Disebutkan, Gomblo dan peternak lainnya saat ini mulai diliputi rasa was-was hingga panik, terlebih dipicu adanya kebijakan Pemerintah telah membatasi pengiriman sapi ke sejumlah daerah, mulai Mojokerto, Gresik, hingga Lamongan.

“Dibeberapa daerah sudah tutup. Tidak boleh ada pengiriman sapi, tentu hal ini membuat rizki bakul dan peternak jadi ikut tersendat,’’ jelas Gomblo.

Selain pengiriman dibatasi, kata Gomblo wabah PMK juga membuat harga jual sapi ikut anjlok. Sebab jika dalam kondisi normal, harga jual sapi bisa berkisar Rp 20 juta.

Sebaliknya, jika terindikasi PMK, maka harga jual terjun bebas hanya Rp 7 juta. ”Apalagi ada peran belantik dan bakul berani permainkan harga, otomatis semakin anjlok,’’ tegasnya.

Saat ini, ia memiliki 5 ekor sapi di kandang dan sejauh ini kondisinya masih sehat. Ia belum menemukan tanda-tanda maupun gejala yang mengarah PMK pada sapi ternaknya.

“Alhamdulillah sejauh ini tidak ada karena sapi masih dalam kondisi normal dan sehat serta nafsu makan masih tinggi,’’ ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi PMK, kata Gomblo, selain kandang harus dalam kondisi bersih, selain itu membatasi pengunjung yang masuk kandang sekaligus melakukan penyemprotan disinfektan.

“Paling tidak kandang harus bersih, membatasi orang yang datang ke kandang, serta melakukan penyemprotan disinfektan.

Selain itu, juga memberi minuman rebusan sirih merah ssbanyak 3 gelas sekali minum, dan harus diberikan 2 kali dalam sehari, yakni pagi dan sore, ini Saya lakukan agar sapi terbantu anti biotiknya,” terangnya.

Senada pula disampaikan peternak Sapi Dusun Carangrejo Desa Carangrejo Kecamatan Kesamben, H. Maksun menyebut wabah PMK di beberapa daerah membuat peternak sapi di Desanya jadi ikut was-was hingga kuwatir.

“Kami sudah duduk bersama dengan semua anggota peternak agendakan penyemprotan disinfektan di kandang sapi,” ujarnya.

Sedikitnya, ada 13 warga se Desa Carangrejo yang beternak sapi. Total populasi sapi sendiri berkisar mencapai 40 ekor.

”Langkah itu sebagai antisipasi kami untuk mencegah penularan wabah PMK,’ sekaligus berikan antibiotik alami yang ada disekitar kita, semisal memberi ternak sapi air rebusan sirih merah,” tegas H. Maksun.

Sementara itu, Agus Susilo Sugioto Kepala Dinas Peternakan Jombang, menyebut tim satgas yang dibentuk sebagai upaya deteksi dini untuk mengatasi PMK pada hewan ternak.

“Kami terus bergerak lakukan pemeriksaan sapi. Itupun paling banyak peternak sapi ini berada di Kecamatan Wonosalam,” sebutnya.

Hingga berita ini diterbitkan, mantan Kasatpol PP ini mengaku bahwa di Kabupaten Jombang belum ditemukan sapi positif PMK.

Itupun, Dua ekor sapi dari Kecamatan Tembelang dan Kecamatan Wonosalam yang sudah dicros- cek, masih sebatas suspek ringan.

“Hasil laborator masih belum keluar, sehingga belum bisa dipastikan secara pasti bahwa di Jombang, ada Sapi yang terserang PMK,” tegas Agus.

Agus mengaku bahwa Dua ekor sapi yang diduga tersuspek wabah PMK itu bukan berasal dari Jombang. Dan dari informasi peternaknya bahwa sapi tersebut baru saja dibelinya secara online.

“Sapi yang ada di Kecamatan Tembelang itu baru dibeli dari Gresik, dan sapi di Wonosalam itu pun baru beli di Mojokerto,” tuturnya.

Namun demikian, pihaknya akan berupaya untuk antisipasi penyebaran wabah PMK di Kabupaten Jombang.

Lebih lanjut, dari hasil pemeriksaan hingga hari ini (red-Jum’at 12/05/2022) kondisi hewan ternak yang telah mengalami gejala mirip PMK, sudah mulai membaik dan sapi-sapi tersebut sudah kembali normal karena mau makan seperti biasa.

Itupun, Agus mengimbau pada peternak agar tetap waspada dan merawat sapi secara baik.

”Kami imbau sapi yang sakit jangan dijual. Segera laporkan ke Dinas Peternakan Jombang, kami akan bantu hingga upayakan untuk penyembuhan,” pungkas Agus.

(Gentho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.