Setelah Dibesuk Bupati, Keluarga Pasien Bayi Meninggal Di RSUD Jombang Legowo Tidak Lagi Menuntut.

Setelah Dibesuk Bupati, Keluarga Pasien Bayi Meninggal Di RSUD Jombang Legowo Tidak Lagi Menuntut.

JOMBANG – Jurnalforumindonesia – Yopi Widianto (26 th) warga Dusun Slombok, Desa Plemahan Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang yang sebelumnya tidak terima atas kematian bayi yang dilahirkan Rohma (25 th) istrinya saat menjalani persalinan di RSUD Jombang pada (28/07).

Setelah dapat perhatian serta dibesuk Bupati, Hj. Mundjidah Wahab, akhirnya kini mulai berlapang dada dengan legowo tidak lagi persoalkan kejadian tersebut.

Meski demikian, dari pihak RSUD Kabupaten Jombang tetap melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jombang, Dinas Kesehatan (Dinkes) Propinsi Jawa Timur, IDI Cabang Jombang, IDI Jawa Timur, POGI Cabang Surabaya, ARSADA Jawa Timur, PERSI dan MAKERSI Jawa Timur, pada Selasa (02/08).

Plt. Direktur RSUD Kabupaten Jombang, drg. Budi Nugroho, saat dikonfirmasi lewat call WhatApp, pada (02/08) mengatakan, pihaknya sudah lakukan pembahasan terkait kejadian tersebut bersama para tim dokter yang terlibat secara langsung yang menangani persalinan saat itu.

“Dapat disimpulkan bahwa upaya penanganan persalinan di RSUD Jombang saat peristiwa itu sudah sesuai SOP medis.

Hal ini telah dikuatkan pula oleh POGI Cabang Surabaya. Bahkan IDI Jombang juga ikut serta menyatakan bahwa penanganan persalinan pada pasien itu sudah sesuai kaidah profesi dan SOP medis.

Apalagi persalinan dengan resiko Preeklamsi (keracunan kehamilan) tidak boleh tidak harus dilakukan secara normal, dan bilamana terjadi kesulitan baru bisa dilakukan upaya terakhir yaitu dengan cara operasi Sectio Caesar(SC),” terang Budi.

drg. Budi Nugroho menuturkan, pada setiap persalinan normal, tentu ada risiko medis dan salah satunya adalah distosia bahu atau ada kemacetan saat melahirkan pada bahu janin. Apalagi risiko distosia bahu pada persalinan, sebelumnya tidak bisa diprediksi secara pasti sekalipun oleh dokter spesialis kandungan.

“Dalam kasus persalinan ini, terjadi distosia bahu dan sudah dilakukan upaya perasat-perasat sesuai prosedur guna persalinan bahu, akan tetapi dengan upaya ini tidak kunjung berhasil.

Karena sebelum pada fase kelahiran, bayi dalam kandungan sudah meninggal, sehingga bayi tidak mampu lagi membantu ibu dalam fase persalinan pada tahap perasat distosia bahu.

Maka dokter yang menangani langsung putuskan untuk lakukan tindakan decapitasi dan operasi Sectio Caesar dalam upaya menyelamatkan ibu bayi,” beber Budi.

Ia menyebutkan pula keputusan itu dilakukan setelah dapat persetujuan dari pihak keluarga. Sehingga ibu bayi dapat diselamatkan dengan kondisi sehat dan stabil. Bahkan sudah diantar pulang, pada Selasa (02/08), Siang.

“Jelasnya penanganan semua pasien di RSUD Jombang dilakukan berdasarkan indikasi medis. Artinya RSUD Jombang tidak pernah bedakan status pasien, baik itu peserta BPJS kesehatan maupun non BPJS kesehatan maupun penjamin kesehatan lainnya.

Kalaupun ada pihak dari RSUD Jombang yang sebelumnya ikut lontarkan pernyataan MINTA MAAF, ini dilakukan sebagai wujud dari keadaban orang jawa yang pegang teguh adat dan budaya ketimuran.

Itupun, guna pertegas adab ketimuran yang diwujudkan pihak RSUD Jombang melalui ibu Bupati Jombang Hj. Mundjidah Wahab pada Selasa (02/08), berkenan untuk membesuk ibu Rohma saat di rawat di RSUD Jombang.

Bahkan, kata drg. Budi, pihaknya sering kali duduk-duduk sembari ngopi dirumah Mas Yopi Widianto ini sembari nunggu perbaikan motor CB djadoelnya di bengkel Cipto Motor Slombok yang juga masih kerabat dekat ibu Rohma ini sewaktu masih menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang.

“Jelasnya, RSUD Jombang sudah melaksanakan upaya yang terbaik bagi pasiennya, namun bila Tuhan menghendaki lain. Hal ini yang harus pula disadari oleh banyak pihak.

Apalagi penanganan dilakukan langsung oleh tiga dokter spicial kandungan merupakan upaya yang harus pula dihargai atas didikasinya itu,” ujar drg. Budi.

Dikatakan, bila melihat angka pasien persalinan di RSUD Jombang setiap harinya hampir ada 4 hingga 7 pasien, kalaupun pelayanan RSUD Jombang dibilang tidak bagus, tentunya angka kasus kematian, baik bayi maupun ibu lakukan persalinan pastinya tinggi.

“Artinya, keberhasilan penanganan persalinan di RSUD Jombang tergolong sudah sangat bagus, karena dari 4 hingga 7 pasien setiap hari yang ditangani sudah bertahun-tahun itu semuanya selamat tanpa ada masalah dan belum pernah terjadi ada kasus kematian.

Kalaupun setiap hari RSUD Jombang tangani 4 hingga 7 pasien persalinan bila dikalikan satu tahun, lalu berapa pasien yang berhasil ditangani tanpa ada masalah,?.

Bila 1 kali gagal karena ada riwayat keracunan pada kandungan, apa pantas disandangkan predikat pada RSUD Jombang buruk sangat buruk dari sisi pelayanan persalinan, itu namanya tidak adil,” tandas drg. Budi.

Dilain pihak, Yopi Widianto suami dari Rohma yang diduga bayinya meninggal dunia di RSUD Jombang sebelum fase akhir persalinan, saat dikonfirmasi JFI, pada (02/08), menyebutkan, bahwa pihaknya tidak lagi menyalakan hingga menuntut secara hukum pihak RSUD Jombang.

“Jelasnya Saya tidak akan menuntut siapapun termasuk pihak RSUD Jombang. Ya, mungkin anak kulo dhereng purun ngenger (red- anak Saya belum mau jadi anaknya),” ungkapnya.

Ia mengakui bila saat Rohma istrinya dirujuk ke RSUD Jombang posisi kepala bayi sudah keluar dari jalan lahir. Ditambah ada riwayat tekanan darah tinggi dan ada indikasi penyakit gula darah sehingga pihak RSUD Jombang gamang saat lakukan operasi.

Jauh hari sebelum persalinan, istrinya (red – Rohma) pernah alami pendarahan hebat, bahkan terjadi dua kali alami pendarahan selama masa kehamilan. Saat itu hanya dibawah untuk kontrol ke Bidan Desa.

“Sering alami muntah-muntah di iringi keluar keringat dingin disertai badan lemas dimasa kehamilan usia 1 hingga 8 bulan, sebelumnya.

Kata bu Bidan saat kontrol kandungan pernah mengatakan bila istri Saya ada indikasi alami keracunan kehamilan. Itupun Saya tidak paham.

Pada kehamilan pertama juga alami keguguran akibat dua kali alami pendarahan hebat, di iringi gejala yang hampir mirip pula seperti sebelum terjadi peristiwa ini,” pungkas Yopi.

(Gentho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.