DPPKB-PPPA Jombang Sosialisasi Sekolah Perempuan (Sekoper).

DPPKB-PPPA Jombang Sosialisasi Sekolah Perempuan (Sekoper).

JOMBANG – Jurnalforumindonesia – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB-PPPA) Jombang, sosialisasikan program sekoper di Ruang Soeroadiningrat 2, Pemkab Jombang, pada Rabu (3/8).

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB-PPPA) Jombang dr.Puji Umbaran, menyebutkan bahwa sosialidasi dimuksudkan dalam rangka memberdayakan perempuan dalam pembangunan. Salah satunya, melalui sekolah perempuan (Sekoper).

’’Kegiatan sosialisasi ini dalam rangka untuk selaraskan kebijakan Pemerintah tentang kesetaraan gender. Sehingga program sekolah bagi perempuan, Kami sangat mendukung,’’ kata dr Pudji Umbaran saat konfirmasi JFI, pada, Rabu (03/08), kemarin.

Apalagi, lanjut dr Puji, menguatkan karakter perempuan tidak mudah, terutama bagi para perempuan yang berada di desa-desa.

“Jelasnya melalui sekoper ini, DPPKB-PPPA Jombang ingin membangun akses pada para perempuan di desa, sehingga para perempuan bisa mengupdate dan mengupgrade dalam sisi pengetahuan sosial. Hingga terbangun kematangan emosi, kemampuan skill dalam berinovasi dan kerkarya dalam interaksi sosialnya.” beber dr. Puji.

Harapannya, tegas dr. Puji, tidak akan ada diskriminasi bagi perempuan dan tidak ada lagi kekerasan dalam rumah tangga.

Sehingga perempuan mampu berdaya secara ekonomi dan secara tidak langsung mampu pula mengentaskan kemiskinan di desa melalui karya serta kreatifitas.

Oleh karena itu, kata dr Puji, dalam sosislisasi DPPKB-PPPA Jombang telah undang organisasi kewanitaan dalam PUSPA. Dengan harapan mampu terbentuk puluhan sekoper-sekuper baru di Kabupaten Jombang.

’’Kalau saja semua desa di Jombang punya sekoper, katakan setengah dari 306 desa, pasti Jombang akan sangat luar biasa.

Itupun ada beberapa materi yang sifatnya informal dan bisa dikembangkan. Diantaranya psikologi, keharmonisan rumah tangga, skill masak atau menjahit, dan lainnya sesuai dengan situasi kondisi di lingkungan masing – masing.

Apalagi materi yang diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan, jadi mereka bisa usul. Biasanya sekoper setahun wisuda, tapi waktu juga fleksibel, mereka bisa atur jadwal waktu sendiri,’’ pungkasnya.

(Gentho)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.